Kedunguan
by ichang
Lihatlah diri mu!
Benarkah itu engkau?
Bukan yang lain?
Bisakah kau meyakinkan ku bahwa itu engkau bukan yang lain?
Ku yakin kau tak cukup mampu menjawab dari setiap tandatanya yang kububuhkan dalam setiap akhir pertanyaan yang ku utarakan.
Jangan! “Jangan tanya aku, karena aku yang bertanya kepada mu”
Lalu siapakah engkau?
Manusia kah?
Makhluk kah?
Atau seonggok daging bertulang, yang dilengkapi akal?
Sudah tujuh kalimat yang berakir dengan tanda tanya kali ini, tapi kau belum juga menjawab satu dari pertanyaan ku!
Aku benar-benar tak mengerti atau bahkan lebih tepatnya “kita” benar-benar tak mengerti. Mengapa kita tak pernah mengerti akan kita. Padahal kita selalu berusaha mengerti tentang sesuatu yang ada disekitar kita. Lalu sesungguhnya siapa kita ini? Layakkah sesuatu yang tak mengerti akan dirinya sendiri mengaku bahwa ia lebih unggul dari yang lain, yang ada disekitarnya? Mengapa huruf “A” merasa lebih unggul dari pada huruf “B” padahal, huruf “A” tak pernah tahu bagimana rasanya jadi huruf “B”.
Lihat diri mu!
Betapa susahnya engkau berusaha melihat diri mu sendiri.
Seperti susahnya aku melihat diriku sendiri.
Kau selalu menatapku tajam penuh nafsu.
Seperti aku pun penuh nafsu dan gairah jika melihat dirimu.
Lihatlah semua terjadi seperti adanya
Tapi kau mengatakan semunya berubah
Ketika aku berdiri ditempat mu aku pun merasakan dan menyaksikan sebuah perubahan,
Dan ketika kau berada di tempat ku, kau pun mengatakan tak ada yang berubah.
Ini aneh, ini ajaib. Ini tak ku mengerti.
Aku sungguh-sungguh dungu!
Berjalan dengan telapak kaki penuh luka, berdiri dengan kaki yang kerempeng, menganga dengan bibir kering terkelupas, berpikir dengan kekosongan.
Berjaln dengan kaki terbungkus sepatu, berdiri dengan balutan celana dengan jejak garis setrika, tersenyum dengan bibir yang manis, berpikir dengan susunan yang teratur atau jangan-jangan telah diatur.
Semuanya dengan bentuk kedunguanya masing-masing, tetapi tak ada satupun yang merasa dirinya dungu, mereka mengatakan orang lain lebih dungu dari dir mereka sendiri
Memang kadang kita tidak bisa melihat dan memahami semuanya dari posisi dimana kita berdiri, bahkan untuk memahami diri sendiri aja terkadang kita tak mampu.
yang lagi bingung, senyum donggggggggggggggggggg