kebuntuan
by ichang
Ciputat 15,06,06.
Banyak hal yang belum ku mengerti dan kupahami kuharap akan. Tapi permasalahan yang sampai saat ini paling tak kumengerti dari para mereka, ialah tak pernah perduli akan sesuatu yang tak di mengerti oleh meraka.
Sebuah realitas yang tak layak dikatakan sebagai realitas, karena realitas adalah sebuah kata yang akan membuaat aku sebagai pengucap atau kalian sebagi pendengar. memberi batasan terhadap sesuatu yang tak ku mengerti itu. Realitas selalu menjebak ku, kita atau kalian yang menggunakan dan mendengar kata itu membentuk juga berupa simbol yang tak kumengerti itu menjadi sebuah adaan yang sangat jauh dari adaan yang sebenarnya, sebuah simbol yang ku tak akan pernah merujuk kepada sesuatu yang tak kumengerti itu. Tapi permasalahanya bagaimana aku, Mengkomunikasikan sesuatu itu. Mungkinkah aku menulis kata-kata seperti ini : “oqweiuwoqtAfdjk#h@Glkjs$agvfipurhv#pkjdsnvillrvgpid”. Sebuah rangkaian simbol-simbaol yang sangat biasa aku pastikan taakan bisa dipahami oleh si pembaca. Walau bagaimanapun dan sekeras apapun aku berusaha membentuk, merumuskan, megkodekan sesuatu itu, yang ku dapatkan adalah satu hal yang taakan pernah merujuk ke sesuatu yang tak ku mengerti itu.
Mungkinkah ini sebuah akhir dari sebuah perjalanan pencarian yang panjang untuk menemukan sesuatu yang tak terbahasakan? Dan pada akirnya pernyataan ku tadi memuculakan sebuah asumsi bahwa pencarian panjang terhadap sesuatu yang sangat-sangat fundramental itu tak menemkukan hasil dan tak berguna sama sekali karena aku tak pernah bisa mengkomunikasikan hal tersebut. Tapi lagi-lagi menurutku pencarian itu taakan pernah berakhir, pencarian terhadap sebuah realitas total bukanlah sebuah kegiatan yang kapan saja kita sebagi manusia bisa memulai atau mengakirinya karena menemukan kebuntuan. Karena pada dasrnya pencarian itu sendiri adalah sebuah kehidupan dari makluk yang sadar, lain halnya bagi mereka makhluk yang sadar dan tidak menyadarkan diri, dan itu pun bukan berarti mereka tidak melakukan pencarian, tetapi mereka berusaha melarikan diri dari sebuah pencarian yang sangat fundramental, dan hal yang demikian menurut ku sah-sah saja karena setiap makhluk yang sadar berhak menentukan arah dan tujuan hidupnya. Perkataan ku di sini tidak bermaksud membicarakan kegiatan atau sikap orang lain, tetapi yang ku bicarakan adalah diriku sendiri. Diri yang selalu terjebak dalam sebuah lubang yang dipenuhi kata dan bahasa “r-u-a-n-g dan w-a-k-t-u” seberapapun kerasnya aku berusahaha keluar dari lubang tersebut maka yang kudapati adalah diriku dalam keadaan ketidak sadaraan, dalam artian aku tak bisa mengendalikan saraf-saraf dalam otak secara benar bahkan ketika aku dalam keadaan setengah sadar. kesadaran ku yang semula akan dikendalikan oleh sebuah kesadaran lain, yang sampai saat ini aku tak bisa membahasakan atau mengkonsepkan kesadaran yang lain itu. Aku sama sekali tidak mau membicarakan suatu hal diluar kesadaran, karena ketika aku membicarakannya akan mengangkat sebuah tema kemistikan yang ada di luar kesadaran ku, dan walau bagimanapun membicarakan persolalan yang berada dilauar kesadaran sama halnya membicarakan sebuah kekosongan.
Kematian bukanlah sebuah akhir dari sebuah kehidupan tetapi mungkin kematian lebih dekat kepada akhir dari sebuah pencarian, karena kematian bukanlah sebuah pengalamaan, bagimana mungkin kematian bisa dikatakan sebuah pengalaman karena pengalaman adalah sebuah kesadaran sementara kematian beraada di luar kesadaran. perjalanan dari sebuah pencarian selalu melekat dengan sebuah pengalaman dan kesadaran. Ketika kematian datang kepada kita maka seketika itu juga kesadaran dalam diri akan hilang. mungkin, karena aku sendiri belum pernah mengalami ituJ (ciputat 2006,06,15).
Kehidupan adalah sebuah perjalanan yang memang harus dilalui oleh setiap orang yang sudah dilahirkan kedunia, semua kembali kediri kita sendiri syukuri apa yang sudah kau miliki lihatlah sekelilingmu lihatlah satu saja dari ciptaan-Nya, pasti kau akan merasa menjadi orang yang paling berbahagia di dunia ini
. tidak ada yang perlu terjebak dalam ruang dan waktu karena itu bagian dari kehidupan itu sendiri.
thanks,,,,
sebenarnya tentang kebuntun ini ditulis 3 th yang laulu, satat semuanya menjadi kacau, dan karena tulisan ini juga saya menjadi sadar kembali, betapa serakahnya manusia yang hanya ingin mencari realitas tunggal (kebenaran hakiki fersi Islam) harus berusaha keluar dari ruang dan waktu karena menurutnya (menutut saya waktu itu) hanya dengan cara itu saya bisa langsung bertanya kepada sang Pembuat rung dan waktu tentang segalanya… dulu memang saya tak pernah puas akan sebuah jawaban tentang apapun, oleh karenanya saya tak pernah tenang dan bahagia. tapi akhirnya saya sadar bahwa menemukan atau mendapatkan apa yang kita cari bukan lah akhir dari kepuasan, tetapi mensyukuri apa yang kita dapat dan sabar dalam melakukan pencarian adalah kunci ketenangan jiwa dan kebahagiaan hati.
Ass…….. kemana aja ichang, tulisannya di tunggu lho… banyak memberikan inspirsi.