<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Ichang</title>
	<atom:link href="http://ichang.org/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ichang.org</link>
	<description>"I am convinced that He does not play dice"</description>
	<lastBuildDate>Sat, 01 May 2010 11:14:12 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Pendidikan sebagai Ilmu</title>
		<link>http://ichang.org/archives/142</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/142#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 11:08:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>
		<category><![CDATA[sebagai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[Materi filsafat Ilmu 6 Slide 1 Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam hidup manusia à dimana ada kehidupan disitu pasti ada pendidikan Pendidikan sebagai gejala sekaligus upaya memanusiakan manusia itu sendiri. Dalam perkembangan adanya tuntutan adanya pendidikan lebih baik, teratur untuk mengembangkan potensi manusia, sehingga muncul pemikiran teoritis tentang pendidikan. Pendidikan adalah upaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Materi filsafat Ilmu 6</h1>
<p>Slide 1<!--[if !ppt]--><!-- .O 	{color:black; 	font-size:149%;} a:link 	{color:#FFCC00 !important;} a:active 	{color:#3333CC !important;} a:visited 	{color:#B2B2B2 !important;} --><!-- .sld 	{left:0px !important; 	width:6.0in !important; 	height:4.5in !important; 	font-size:103% !important;} --><!--[endif]--></p>
<div>
<div><!--[if !ppt]--></p>
<ul>
<li>Pendidikan adalah fenomena yang fundamental atau asasi dalam hidup manusia à dimana ada kehidupan disitu pasti ada pendidikan</li>
</ul>
</div>
<div><!--[if !ppt]--></p>
<ul>
<li>Pendidikan sebagai gejala sekaligus upaya memanusiakan manusia itu sendiri.</li>
</ul>
</div>
<div><!--[if !ppt]--></p>
<ul>
<li>Dalam perkembangan adanya tuntutan adanya pendidikan lebih baik, teratur untuk mengembangkan potensi manusia, sehingga muncul pemikiran teoritis tentang pendidikan.</li>
</ul>
</div>
<div><!--[if !ppt]--></p>
<ul>
<li>Pendidikan adalah upaya sadar untuk mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki manusia, melahirkan teori-teori pendidikan (<em>theories of education</em>)</li>
</ul>
</div>
</div>
<div>selengkapnya silahkan klik <a href="http://ichang.org/wp-content/uploads/2010/05/Pendidikan-sebagai-Ilmu.ppt">download</a></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/142/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>HUBUNGAN ANTARA FILSAFAT DENGAN FILSAFAT PENDIDIKAN</title>
		<link>http://ichang.org/archives/139</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/139#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 May 2010 11:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=139</guid>
		<description><![CDATA[Materi Filsafat Ilmu 5 Donald Butler (1957), filsafat memberikan arah &#38; metodologi terhadap praktek pendidikan; praktek pendidikan memberikan bahan bagi pertimbangan filsafat Brubacher (1950), mengemukakan 4 pandangan tentang hubungan ini : Filsafat merupakan dasar utama dalam filsafat pendidikan Filsafat merupakan bunga, bukan akar pendidikan Filsafat pendidikan berdiri sendiri sebagai disiplin yang mungkin memberi keuntungan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1>Materi Filsafat Ilmu 5</h1>
<p><!--[if !mso]> <mce:style><!  v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} p\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} v\:textbox {display:none;} --> <!--[endif]--><!--[if !ppt]--><!-- .O 	{color:#000066; 	font-size:149%;} .O1 	{color:#000066; 	font-size:149%;} a:link 	{color:#3333CC !important;} a:active 	{color:#CCCCFF !important;} a:visited 	{color:#AF67FF !important;} --><!-- .sld 	{left:0px !important; 	width:6.0in !important; 	height:4.5in !important; 	font-size:103% !important;} --><!--[endif]--></p>
<div>
<div>
<ul>
<li>Donald Butler (1957), filsafat memberikan arah &amp; metodologi terhadap praktek pendidikan; praktek pendidikan memberikan bahan bagi pertimbangan filsafat</li>
</ul>
</div>
<div>
<ul>
<li>Brubacher (1950), mengemukakan 4 pandangan tentang hubungan ini :
<ul>
<li>Filsafat merupakan dasar utama dalam filsafat pendidikan</li>
<li>Filsafat merupakan bunga, bukan akar pendidikan</li>
<li>Filsafat pendidikan berdiri sendiri sebagai disiplin yang mungkin memberi keuntungan dari kontak dengan filsafat, tetapi kontak tersebut tidak penting</li>
<li>Filsafat dan teori pendidikan menjadi satu</li>
</ul>
</li>
</ul>
</div>
<div>
<ul>
<li>John Dewey, filsafat dan filsafat pendidikan adalah sama, seperti pendidikan sama dengan kehidupan</li>
</ul>
</div>
<div>Selengkapnya silahkan klik <a href="http://ichang.org/wp-content/uploads/2010/05/hubungan_filsafat_dgn_filsafat_pendidikan.ppt">download</a></div>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/139/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>RESEARCH METHODOLOGY</title>
		<link>http://ichang.org/archives/129</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/129#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 18:33:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[semester 1]]></category>
		<category><![CDATA[methodology]]></category>
		<category><![CDATA[RESEARCH]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=129</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa pengertian Re Re adalah kegiatan yang tidak boleh berhenti 9harus dikalukan secara terus menerus) Search Search adalah mencari Research Research adalah kegiatan mencari seraca terus menerus Apa yang di cari? Yang dicari adalah informasi. Informasi Informasi adalah data yang di proses dan punya arti Analysis Analysis adalah proses dari data menjadi informasi Mengapa infrmasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="text-decoration: underline;">Beberapa pengertian</span></h2>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Re</span></strong></p>
<p>Re adalah kegiatan yang tidak boleh berhenti 9harus dikalukan secara terus menerus)</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Search</span></strong></p>
<p>Search adalah mencari</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Research</span></strong></p>
<p>Research adalah kegiatan mencari seraca terus menerus</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Apa yang di cari?</span></strong></p>
<p>Yang dicari adalah informasi.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Informasi</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p>Informasi adalah data yang di proses dan punya arti</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Analysis</span></strong></p>
<p>Analysis adalah proses dari data menjadi informasi</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Mengapa infrmasi di cari?</span></strong></p>
<p>Karena informasi yang benar sekarang, belum tentu yang akan datang benar atau benar sekarang seterusnya benar (infrmasi berubah sepanjang waktu).</p>
<p>Research secara sederhana diartikan proses bagaimana mancari informasi.</p>
<p>Proses mencari informasi mempunyai karakteristik sebagai berikut:</p>
<ol>
<li>logic      (harus diterima akal sehat)</li>
<li>systematic      (harus ada aturannya)</li>
<li>empiric      (hasil yang akan kita peroleh akan “bunyi” bila ada fakta)</li>
</ol>
<h2><strong> Sasaran research</strong></h2>
<p>Sasaran research adalah mendapatkan informasi untuk problem solving</p>
<p>Alat pproblem solfing adalah researh adalah teori</p>
<p>Teori adalah fakta-fakta yang di teliti pada masa lalu dan berlaku secara universal.</p>
<p>Jadi research merupakan investigasi yang dilakukan secara logic, systematic dan empire untuk mendapatkan informasi yang bertujuan untuk memecahkan masalah.</p>
<ul>
<li>Jika tidak ada problem solving kita tidak usah melakukan research.</li>
<li>Problem solving adalah untuk mengisi kekosongan teori.</li>
<li>Problem solvng lebih ke penyelesaian masalah praktis (aplied research)</li>
</ul>
<p>Dalam penelitian terjadi 2 pemecahan masalah yaitu:</p>
<ol>
<li>Applied      research (masalah praktis)</li>
<li>Achademic      research (masalah akademik)</li>
</ol>
<h2><strong>Masalah research</strong></h2>
<p>Masalah research adalah masalah yang mendasari mengapa penelitian tersebut dilakukan.</p>
<p>Informasi berisi atau bisa menjawab hal sbb:</p>
<ol>
<li>what</li>
<li>where</li>
<li>when</li>
<li>how</li>
<li>whay</li>
</ol>
<p><strong>thinking &#8211;&gt; ciri-ciri ilmuan</strong></p>
<p>thinking adalah berpikir, yaitu setiap orang yang peduli terhadap masalah (selalu berpikir untuk memecahkan masalah).</p>
<p>Thinking proses (bagaimana orang berpikir?) yaitu:</p>
<ol>
<li>jika      menemukan kesulian selalu mejadi masalah.</li>
<li>mecari      alternatif cara pemecahan masalah</li>
<li>memilih      cara pemecahan masalah</li>
<li>menguatkan      fakta (cara yang dipilih harus d tes benar tidaknya)</li>
<li>membuat      kesimpulan.</li>
</ol>
<p>Jadi dalam research kita melakuka 5 langkah di atas, sedangkan saran itu tidak termasuk dalam research tetapi termasuk dalam developmet. Thinking proses pada perinsipnya proses menarik kesimpulan.<em> </em>Sedangkan <em>Thinking method</em> (cara berpikir orang)</p>
<h2><strong><span style="text-decoration: underline;">Ciri Teori</span></strong></h2>
<p><span style="text-decoration: underline;"> </span></p>
<p><em>General statement</em> (pernyataan umum)</p>
<p>Contoh: price turn, demand meningkat.</p>
<h3><strong><span style="text-decoration: underline;">Reflektif Thinking</span></strong></h3>
<p><span style="text-decoration: underline;"><a href="http://ichang.org/wp-content/uploads/2010/04/general-statment.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-130" title="reflective thinking" src="http://ichang.org/wp-content/uploads/2010/04/general-statment-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></span></p>
<p><a href="http://ichang.org/wp-content/uploads/2010/04/reflective-thinking.bmp"><br />
</a></p>
<p><a href="http://ichang.org/wp-content/uploads/2010/04/reflective-thnking.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-132" title="reflective thnking 2" src="http://ichang.org/wp-content/uploads/2010/04/reflective-thnking-300x239.jpg" alt="" width="300" height="239" /></a></p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Deductive</span></strong> adalah berpikir dengan menarik kesimpulan dari umum ke khusus.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Inductive</span></strong> adalah berpikir dengan menarik kesimpulan dari khusus ke umum</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Reflective thinking</span></strong> adalah menarik kesimpulan berdasarkan deduktif dan induktif.</p>
<p><em>Reflactive</em> <em>Thinking</em> sering disebut dengan hipotesis testing.</p>
<p>Dalam penelitian ilmiah hipotesis testing adalah wajib.</p>
<p>Penelitian ilmiah sering disebut <em>scientific thinking.</em></p>
<p>Sarat tesis dan desertasi adalah <em>scientific thinking.</em></p>
<p><em>** </em>maaf file ga saya upload. bagi yang butuh soft copy-nya silahkan tulis email anda di comment  <img src='http://ichang.org/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/129/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>ORIENTASI BARU DALAM PEMBELAJARAN</title>
		<link>http://ichang.org/archives/121</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/121#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 11:29:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>kucrut</dc:creator>
				<category><![CDATA[semester 1]]></category>
		<category><![CDATA[orientasi]]></category>
		<category><![CDATA[pembelajaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=121</guid>
		<description><![CDATA[Konsepsi Dasar Teori Belajar dan Pembelajaran serta keterkaitan antar keduanya. Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu sendiri. Belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap. (Winkel). Belajar [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2>Konsepsi Dasar Teori Belajar dan Pembelajaran serta keterkaitan antar keduanya.</h2>
<ol>
<li>Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai pengalaman individu itu sendiri.</li>
<li>Belajar adalah aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan-perubahan dalam pengetahuan, pemahaman, keterampilan, nilai dan sikap. (Winkel).</li>
<li>Belajar merupakan perubahan tingkah laku yang relatif menetap, sebagai hasil pengalaman-pengalaman atau praktik. (Sdaffer).</li>
<li>Belajar merupakan peristiwa yang terjadi secara sadar dan disengaja.</li>
<li>Perubahan yang terjadi setelah seseorang melakukan kegiatan belajar dapat berupa keterampilan, sikap, pengertian atau pengeta huan.</li>
</ol>
<p>Selengkapnya download di <a href="http://ichang.org/wp-content/uploads/2010/04/MATERI-obp-12367.zip">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/121/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>METODOLOGI PENELITIAN KUALITATIF</title>
		<link>http://ichang.org/archives/116</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/116#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Apr 2010 06:23:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[semester 1]]></category>
		<category><![CDATA[kualitatif]]></category>
		<category><![CDATA[metodologi]]></category>
		<category><![CDATA[penelitian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Landasan Filosofis dan Teoritik Metodologi Penelitian Kualitatif Adanya perbedaan penafsiran atas objek ilmu sosial pada manusia (masyarakat) Kuantitatif :  memandang manusia sebagai benda, Bersumber dari wawasan filsafat positivistik (aliran positivisme) dari Auguste Comte, Emille Durkheim. Kualitatif :  memandang manusia sebagai Ide, bahwa manusia terikat oleh norma / pranata sosial yang berlaku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si</p>
<p>Landasan Filosofis dan Teoritik Metodologi Penelitian Kualitatif</p>
<ul>
<li>Adanya perbedaan penafsiran atas objek ilmu sosial pada manusia (masyarakat)</li>
</ul>
<ul>
<li>Kuantitatif : 	memandang manusia sebagai benda, Bersumber dari wawasan filsafat positivistik (aliran positivisme) dari Auguste Comte, Emille Durkheim.</li>
<li>Kualitatif : 	memandang manusia sebagai Ide, bahwa manusia terikat oleh norma / pranata sosial yang berlaku (holistik). Bersumber dari wawasan filsafat rasionalistik dan fenomenologi, dari Marx Weber.</li>
</ul>
<p>Beberapa Istilah yang digunakan untuk Penelitian Kualitatif, yaitu penelitian atau inkuiri naturalistik atau alamiah, etnografi, interaksionis simbolik, etnometodologi, fenomenologi,studi kasus, interpretatif, ekologis, dan deskriptif (Bogdan dan Biklen, 1982).</p>
<ol>
<li>Bogdan dan Taylor (1975), metodologi kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat di amati. Pendekatan ini diarahkan pada latar dan individu tsb secara utuh (holistik).</li>
<li>Kirk dan Miller (1986) penelitian kualitatif sebagai:    	“tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada` pengamatan pada manusia, dalam kawasannya sendiri &amp; berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya dan dalam peristilahannya.”</li>
</ol>
<p>Selengkapnya silahkan download <a href="http://ichang.org//download/met.kualitatif 1&amp;2.zip" target="_blank">di sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/116/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Filsafat Ilmu</title>
		<link>http://ichang.org/archives/76</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/76#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 20 Mar 2010 10:20:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[semester 1]]></category>
		<category><![CDATA[filsafat ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[pascasarjana untirta]]></category>
		<category><![CDATA[pengantar filsafat ilmu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Mata kuliah filsafat ilmu diberikan pada program pascasarjana yang ada di UNTIRTA (Universitas Sultan ageng tirtayasa Banten) untuk memberikan dasar kepada mahasiswa dalam menempuh mata kuliah metedologi penelitian. baik metodologi penelitian kuantitatif maupun metodologi penelitian kualitatif. dan untuk mendownload materi yang diberikan Dr.Ibrahim.SH silahkan download file di bawah ini: file berbentuk .zip,,, harap memiliki winzip [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mata kuliah filsafat ilmu diberikan pada program pascasarjana yang ada di UNTIRTA (Universitas Sultan ageng tirtayasa Banten) untuk memberikan dasar kepada mahasiswa dalam menempuh mata kuliah metedologi penelitian. baik metodologi penelitian kuantitatif maupun metodologi penelitian kualitatif. dan untuk mendownload materi yang diberikan Dr.Ibrahim.SH silahkan download file di bawah ini:</p>
<p>file berbentuk .zip,,, harap memiliki winzip ato winrar untuk membuka file ini</p>
<ol>
<li>Pertemuan pertama <a href="http://ichang.org/download/pengantar.zip">download</a></li>
<li>pertemuan kedua <a href="http://ichang.org//download/ILMU ( PENGETAHUAN ) sesi II.zip">download</a></li>
</ol>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/76/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perempuan dalam Teosofi Ibn ‘Arabi</title>
		<link>http://ichang.org/archives/62</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/62#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 14:40:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[perempuan]]></category>
		<category><![CDATA[feminisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Iman Fauzan Berbicara mengenai perempuan memang manarik namun juga menyedihkan. Menarik, karena perbincangan ini berkenaan langsung dengan diri kita sebagai manusia yang secara biologis tercipta sebagai laki-laki dan perempuan. Menyedihkan, karena secara empiris-sosiologis tidak bisa dinafikan akan banyaknya ketidakadilan sosial yang terjadi terhadap gender perempuan. Dan ketidakadilan ini barang kali merupakan ketidak adilan tertua [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span><br />
<mce:style><!  st1\:*{behavior:url(#ieooui) } --></p>
<p><!--[endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; text-indent: 27pt;">Oleh: Iman Fauzan</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Berbicara mengenai perempuan memang manarik namun juga menyedihkan. Menarik, karena perbincangan ini berkenaan langsung dengan diri kita sebagai manusia yang secara biologis tercipta sebagai laki-laki dan perempuan. Menyedihkan, karena secara empiris-sosiologis tidak bisa dinafikan akan banyaknya ketidakadilan sosial yang terjadi terhadap gender perempuan. Dan ketidakadilan ini barang kali merupakan ketidak adilan tertua dalam sejarah manusia.<span id="more-62"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Fenomena ketidak adilan sosial terhadap perempuan itu menurut analisa kontemporer Mansour Fakih bisa dilihat dalam lima gejala yang ada: marjinalisasi perempuan baik di rumah tangga maupun tempat kerja, subordinasi terhadap perempuan karena anggapan gender yang salah, streotif yang merugikan kaum perempuan, berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan baik fisik maupun psikologis, dan pembagian kerja seksual yang merugikan kaum perempuan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Dalam dunia Islam sendiri perempuan cenderung diletakan sebagai makhluk sekunder, terutama oleh kaum konservatif Islam yang hanya memperhatikan aspek-aspek luar dan formalnya saja dalam memperlakukan perempuan dan keperempuanannya. Dengan tidak memperhatikan aspek spiritual yang biasa digali oleh kaum teosofi, dan ini lebih bersifat humanis, perenial, dan universal. Maka tidak heran kalau Islam diklaim sebagai agama yang melegitimasi kekerasan terhadap perempuan. Dan patut kita cari juga jawaban atas maraknya pernyataan para <em>western</em> yang menyatakan, <em>“I am sufism but not moeslim&#8221;. </em>Terutama yang terkait dengan persoalan-persoalan perempuan dalam perbincangan dunia Islam kontemporer.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Para teosofi Islam memandang perempuan sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki keistimewaan lebih dibanding laki-laki. Itulah mengapa asy-<em>Syaykh al-Akhbar</em> Ibn ‘Arabi tidak henti-hentinya takjub setiap kali bertemu dengan perempuan-perempuan istimewanya seperti; Maryam (istri pertamanya), Sayyidah Nizam (rekan termuda dan cantik), dan Fathimah bint Ibn al-Mutsana (seorang guru spiritual Ibn ‘Arabi), yang ketiga-tiganya menjadi<em> elan vital</em> dalam perjalanan spiritualnya menuju illahi, karena mereka juga pada kenyataanya adalah seorang feminin sofianik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Dengan demikian tulisan ini bertujuan untuk menjernihkan pemahaman yang menyatakan bahwa Islam sebagai agama yang melegitimasi kekerasan terhadap perempuan. Padahal dalam Islam sendiri terdapat berbagai macam corak pemikiran dan penafsiran. Maka di sini akan menyuguhkan satu sudut pandang yang berbeda, yaitu mengenai status perempuan dalam teosofi Ibn ‘Arabi yang lebih humanis.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Menurut Ibn ‘Arabi, perempuan memang mulia dan tak sekedar dimuliakan, kemuliaan itu terkait langsung dengan kodrat perempuan sebagai pantulan kasih sayang Tuhan yang bersifat perenial dan universal. Perempuan mendapat status yang tinggi di mata Tuhan, karena pada dirinya melekat citra Tuhan sebagai Yang Mahakasih. Ke-rahim-an perempuan menandakan ke-rahim-an Tuhan yang menyejukan dunia dengan kasihnya. Dan “penampakan” Tuhan terjadi paling sempurna pada diri seorang perempuan. Laki-laki boleh mendapatkan sederet keistimewaan dalam hukum agama, tetapi pada diri seorang perempuan lah kualitas-kualitas spiritual sejati itu ditampakan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Para teosof memiliki pandangan yang berbeda mengenai relasi gender dari pandangan kaum feminis kontemporer saat ini. Ini satu hal yang menarik umtuk digarisbawahi. Tidak seperti kaum feminis yang melihat relasi gender sebagai sesuatu yang <em>socially constructed</em>, para teosof memandang relasi gender sebagai suatu hal yang “kodrati”. Kalaupun relasi itu dapat berubah, bagi teosof seperti Ibn ‘Arabi, setidaknya ia merupakan manifestasi illahi yang intrinsik dan bersifat perenial. Kualitas-kualitas feminin dan maskulin adalah dua kembar dari perwujudan kasih sayang Tuhan dalam kehidupan. Karena Tuhan mengandung di dalam dirinya sifat-sifat feminin dan maskulin sekaligus.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Selain itu Ibn ‘Arabi sendiri menyadari jebakan maskulinitas dalam doktrin Islam. Dalam <em>Futuhat al-Makiyah (</em>kitab termashur pertama yang konon dalam penulisannya ia didikte langsung oleh Tuhan), Ibn ‘Arabi memperingatkan agar umat Islam tidak terpukau dengan pernyataan nabi yang terkenal, yang menyatakan bahwa kerusakan akan melanda sekelompok orang yang menjadikan perempuan sebagai pemimpinnya. Karena kedudukan perempuan bagi Ibn ‘Arabi tidak berbeda dengan laki-laki, tidak ada yang direndahkan atau diunggulkan. Meskipun kadang dalam derajat spiritual tertentu, mengungguli laki-laki tertentu pula, seperti yang pernah dialami oleh Rabiah Al-Adawiyah dalam perjalanan cintanya bagi kami sebagai lelaki awam yang belum pernah merasakan cinta seperti cintanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Kami kembali pada Ibn ‘Arabi yang memiliki analisa menarik dalam mengekplorasi argumen-argumennya. Ia mengawali analisanya dengan<span> </span>menafsirkan secara spiritual kata <em>mar&#8217; </em>dan <em>mar’ah</em> dalam yang terdapat dalam al-Qur&#8217;an. Menurutnya, jika laki-laki disebut dalam al-Qur’an sebagai<em> mar</em>’ dan perempuan sebagai<em> mar’ah</em> (dengan tambahan huruf <em>ha’</em>), itu dilakukan Tuhan bukan tanpa hikmah. Imbuhan<em> ha’</em> pada kata <em>mar’ah</em> melambangkan satu tingkat kesempurnaan yang ditambahkan Tuhan pada perempuan. Uniknya, <em>ha’</em> itu bersifat aktif dan sekaligus pasif, karena ketika dibaca dengan kata lain, ia menjadi “penyambung” bagi kalimat sesudahnya. Tetapi <em>ha’</em> juga bersifat pasif, karena menandai saat-saat ketika pembaca berhenti dan mengakhiri bacaanya pada titik itu. Dengan kata lain <em>ha’</em> adalah kehidupan dan kematian selakigus, yang menyambung harapan kepada apa yang akan datang, tetapi juga berakhir dan mengakhiri dirinya dalam ketiadaan dan kekosongan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Citra Tuhan yang maskulin dalam agama monotoisme memang mengakar dalam kesadaran. Citra in menurut Ibn ‘Arabi, mengaburkan kenyataan bahwa sesungguhnya Tuhan “mengandung” unsur-unsur feminin. Secara lahir nama tertinggi bagi Tuhan memang asma<em> Allah</em> yang bersifat maskulin. Tetapi dalam level yang lain, <em>Allah</em> juga disebut juga dengan nama <em>adz-Dzat</em>. Penyebutan <em>Allah</em> dengan <em>adz-Dzat</em> menandakan esensi Tuhan yang tak terjangkau dan tak kergambarakan. Tapi uniknya ketakterjangkauan Tuhan dan kemustahilannya untuk dinamai justru dirujuk dengan istilah feminin yang sangat akrab bagi pikiran manusia.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Meskipun kita akan mengakui tanpa ragu bahwa bahasa tidak akan pernah memadai untuk mendeskripsikan wujud Tuhan yang sesungguhnya. Karena dengan menggunakan bahasa yang terbatas kita tidak akan bisa mendeskripsikan seluruh apa yang kita rasa, apa lagi untuk mendeskripsikan wujud Tuhan yang menampung seluruh rasa. Dan bahkan bisa jadi kita akan “terperangkap” dalam penjara bahasa. Maskulinitas atau feminisitas <span> </span>masing-masing saling mengisi dan melengkapi. Ibarat “dua tangan” Tuhan yang bekerja secara bersamaan. Keduanya saling membutuhkkan dan saling berhasrat kepada yang lain. Dan hubungan dari kedua unsur ini bukan lah <em>oposisi biner</em> yang mensyaratkan adanya superioritas dan inferioritas, yang satu lebih unggul dari yang lain. Hubungan perempuan dan laki-laki adalah hubungan yang membutuhkan satu sama lain, hubungan belahan jiwa yang ingin melebur menjadi satu kembali. Meskipun dalam bentuknya yang empiris (yang terlihat dengan mata) laki-laki dan perempuan memiliki keunikan dan kelainannya masing-masing.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Pada bagian akhir, bab tiga dan empat, dalam kitab termashur keduanya (<em>Fusus al-Hikam</em>) yang konon dalam penulisannya ia didikte langsung oleh Nabi Muhammad, Ibn &#8221;Arabi juga menjelaskan secara panjang lebar tentang kelebihan aspek spiritual pada diri perempuan sebagai antitesa terhadap penafsiran-pebafsiran yang lebih memihak pada maskulinitas. Diantaranya ia berbicara tentang hubungan timbal-balik Tuhan—laki -laki—perempuan yang dengan demikian mengilustrasikan ‘Rangkaian Cinta’ diantara ketiganya, dengan menginterpretasikan kata ‘tiga’ dalam salah satu Hadis Nabi dengan menyebut satu-persatu dari tiga hal yang disukai Nabi secara beurutan: perempuan, parfum/wangi-wangian, dan salat—adalah dalam bentuknya yang <em>mu’annas. </em>Meskipun salah satu diantara tiga hal itu berbentuk <em>muzakkar</em>, yang menurut interpretasi Ibn ‘Arabi adalah sebagai penegasan implisit Nabi terhadap kelebihan feminin. Untuk mendukung deduksinya ini Ibn ‘Arabi melanjutkan dengan menunjukan bahwa mayoritas kata yang berhubungan dengan asal-usul dan penciptaan berbentuk feminin, seperti esensi (<em>‘zat</em>), sebab (<em>‘illah</em>), kekuatan (<em>qudrah</em>). Oleh karena itu, ia melanjutkan juga bahwa kata benda <em>muzakkar</em> (wangi-wangian) ditempatkan diantara dua kata kerja <em>mu’annas</em>, perempuan dan salat, sebagaimana laki-laki dirinya berada diantara Zat Illahi (kata kerja <em>mu’annas</em>) dan perempuan, yang bermakna dia (laki-laki) berasal dari Yang Pertama (Tuhan) dan berasal dari asal yang kedua (perempuan).<em><span> </span></em>Dengan demikian perempuan adalah “rahmat semesta”. Karena ia memiliki kedudukan tersendiri yang tak tegantikan dalam menjaga keseimbangan kosmos. Dan Ibn ‘Arabi pernah berjanji, jika pada hari kiamat nanti Tuhan memberinya ampunan, ampunan itu akan ia hadiahkan pertama kali buat perempuan-perempuan yang ia cintai.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;">Dan untuk mengetahui, dengan tidak mencoba menyederhanakan, konsep perempuan dalam gerakan feminis Islam kontemporer yang mirip dengan pemahaman Ibn &#8216;Arabi. kami akan mengetengahkan dua model gerakan feminis Islam: Pertama, gerakan feminis Islam yang memperjuangkan keadilan gender dengan berusaha menyamakan (mensetarakan) antara laki-laki dan perempuan, <em>fifty-fifty</em>. Dengan dalih bahwa gender hasil konstruksi sosial budaya masyarakat, di sini ada pengaruh paradigmatis, untuk mengatakan tidak mengkopy, feminis barat tahun 1960 dan 1970-an, terutama oleh pemikiran orientasi kultur (<em>cultur-all oriented contestants</em>), laki-laki putih perempuan jug harus putih, laki-laki hitam perempuan juga harus hitam. Kedua, gerakan feminis Islam yang memperjuangkan keadilan gender dengan berusaha menjelaskan bahwa perempuan dan laki-laki di bidang gender seperti seks bagaimana pun tetap berbeda. Perbedaaan ini bersifat “given” alamiyah (<em>nature</em>). Perbedaan ini tidak untuk saling mendominasi (mengeksploitasi) dalam sebuah relasi yang hierarkis, tetapi untuk saling mengisi dan melengkapi. Ide dasar yang diperjuangkan adalah kesatuan dan keseimbangan antara nilai maskulinitas dan nilai feminitas dengan polaritas warna yang tetap berbeda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"><span style="font-size: 8pt;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 27pt;"><strong><span style="font-size: 10pt;">Rujukan,</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>1.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size: 10pt;">R.W.J.Austin, <em>Feminin Sofianik (Wanita Bijak) Dalam Karya Ibn ‘Arabi Dan Rumi</em>, dalam buku Warisan Sufi Persia Abad Pertengahan (1150-1500) karya Seyyed Hossein Nasr. Hal. 405</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>2.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size: 10pt;">Sachiko Murata, <em>The Tao of Islam: Kitab Rujukan Tentang Relasi Gender Dalam Kosmologi Dan Teologi Islam</em> (Bandung: Mizan, 1998)<span> </span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>3.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size: 10pt;">Saiful Amin, S.Ag., <em>Teologi Perempuan:Mensejajarkan Atau Menyatukan?</em>, dalam majalah el-Harakah, No.56, Tahun XXII, Januari-Maret 2001</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>4.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size: 10pt;">Muhammad al-Fayyadl, <em>Wajah Perempuan Wajah Tuhan</em>, dalam majalah Basis, No.03-04, Tahun Ke-55, Maret-April 2006</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>5.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size: 10pt;">Ratna Megawangi, <em>Membiarkan Berbeda? </em>(Bandung: Mizan, 1999)</span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 36pt; text-align: justify; text-indent: 27pt;"><!--[if !supportLists]--><span style="font-size: 10pt;"><span>6.<span style="font-family: &quot;Times New Roman&quot;; font-style: normal; font-variant: normal; font-weight: normal; font-size: 7pt; line-height: normal; font-size-adjust: none; font-stretch: normal; -x-system-font: none;"> </span></span></span><!--[endif]--><span dir="ltr"><span style="font-size: 10pt;">Mansour Fakih, <em>Analisa Gender dan Transformasi Sosial </em>(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997).</span></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/62/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>kebuntuan</title>
		<link>http://ichang.org/archives/55</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/55#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 23:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[realitas tak terbahasakan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[Ciputat 15,06,06. Banyak hal yang belum ku mengerti dan kupahami kuharap akan. Tapi permasalahan yang sampai saat ini paling tak kumengerti dari para mereka, ialah tak pernah perduli akan sesuatu yang tak di mengerti oleh meraka. Sebuah realitas yang tak layak dikatakan sebagai realitas, karena realitas adalah sebuah kata yang akan membuaat aku sebagai pengucap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[endif]--><em>Ciputat 15,06,06.</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"><img class="size-medium wp-image-60 alignleft" title="jln-buntu" src="http://ichang.org/wp-content/uploads/2009/02/jln-buntu-300x238.jpg" alt="jln-buntu" width="181" height="144" />Banyak hal yang belum ku mengerti dan kupahami kuharap akan. Tapi permasalahan yang sampai saat ini paling tak kumengerti dari para mereka, ialah tak pernah perduli akan sesuatu yang tak di mengerti oleh meraka.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;">Sebuah realitas yang tak layak dikatakan sebagai realitas, karena realitas adalah sebuah kata yang akan membuaat aku sebagai pengucap atau kalian sebagi pendengar. memberi batasan terhadap sesuatu yang tak ku mengerti itu. Realitas selalu menjebak ku, kita atau kalian yang menggunakan dan mendengar kata itu membentuk juga berupa simbol yang tak kumengerti itu menjadi sebuah adaan yang sangat jauh dari adaan yang sebenarnya, sebuah simbol yang ku tak akan pernah merujuk kepada sesuatu yang tak kumengerti itu. Tapi permasalahanya bagaimana aku, Mengkomunikasikan sesuatu itu. Mungkinkah aku menulis kata-kata seperti ini :<span> </span>“oqweiuwoqtAfdjk#h@Glkjs$agvfipurhv#pkjdsnvillrvgpid”. Sebuah rangkaian simbol-simbaol yang sangat biasa aku pastikan taakan bisa dipahami oleh si pembaca. Walau bagaimanapun dan sekeras apapun aku berusaha membentuk, merumuskan, megkodekan sesuatu itu, yang ku dapatkan adalah satu hal yang taakan pernah merujuk ke sesuatu yang tak ku mengerti itu.<span id="more-55"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"><span> </span>Mungkinkah ini sebuah akhir dari sebuah perjalanan pencarian yang panjang untuk menemukan sesuatu yang tak terbahasakan? Dan pada akirnya pernyataan ku tadi memuculakan sebuah asumsi bahwa pencarian panjang terhadap sesuatu yang sangat-sangat fundramental itu tak menemkukan hasil dan tak berguna sama sekali karena aku tak pernah bisa mengkomunikasikan hal tersebut. Tapi lagi-lagi menurutku pencarian itu taakan pernah berakhir, pencarian terhadap sebuah realitas total bukanlah sebuah kegiatan yang kapan saja kita sebagi manusia bisa memulai atau mengakirinya karena menemukan kebuntuan. Karena pada dasrnya pencarian itu sendiri adalah sebuah kehidupan dari makluk yang sadar, lain halnya bagi mereka makhluk yang sadar dan tidak menyadarkan diri, dan itu pun bukan berarti mereka tidak melakukan pencarian, tetapi mereka berusaha melarikan diri dari sebuah pencarian yang sangat fundramental, dan hal yang demikian menurut ku sah-sah saja karena setiap makhluk yang sadar berhak menentukan arah dan tujuan hidupnya. Perkataan ku di sini tidak bermaksud membicarakan kegiatan atau sikap orang lain, tetapi yang ku bicarakan adalah diriku sendiri. Diri yang selalu terjebak dalam sebuah lubang yang dipenuhi kata dan bahasa “r-u-a-n-g dan w-a-k-t-u” seberapapun kerasnya aku berusahaha keluar dari lubang tersebut maka yang kudapati adalah diriku dalam keadaan ketidak sadaraan, dalam artian aku tak bisa mengendalikan saraf-saraf dalam otak secara benar bahkan ketika aku dalam keadaan setengah sadar.<span> </span>kesadaran ku yang semula akan dikendalikan oleh sebuah kesadaran lain, yang sampai saat ini aku tak bisa membahasakan atau mengkonsepkan kesadaran yang lain itu. Aku sama sekali tidak mau membicarakan suatu hal diluar kesadaran, karena ketika aku membicarakannya akan mengangkat sebuah tema kemistikan yang ada di luar kesadaran ku, dan walau bagimanapun membicarakan persolalan yang berada dilauar kesadaran sama halnya membicarakan sebuah kekosongan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify; text-indent: 0.5in;"><span> </span>Kematian bukanlah sebuah akhir dari sebuah kehidupan tetapi mungkin kematian lebih dekat kepada akhir dari sebuah pencarian, karena kematian bukanlah sebuah pengalamaan, bagimana mungkin kematian bisa dikatakan sebuah pengalaman karena pengalaman adalah sebuah kesadaran sementara kematian beraada di luar kesadaran. perjalanan dari sebuah pencarian selalu melekat<span> </span>dengan sebuah pengalaman dan kesadaran. Ketika kematian datang kepada kita maka seketika itu juga kesadaran dalam diri akan hilang. mungkin, karena aku sendiri belum pernah mengalami itu<span style="font-family: Wingdings;"><span>J</span></span> (ciputat 2006,06,15).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/55/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedunguan</title>
		<link>http://ichang.org/archives/50</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/50#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 23:10:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kontemplasi]]></category>
		<category><![CDATA[kesadaran]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=50</guid>
		<description><![CDATA[Lihatlah diri mu! Benarkah itu engkau? Bukan yang lain? Bisakah kau meyakinkan ku bahwa itu engkau bukan yang lain? Ku yakin kau tak cukup mampu menjawab dari setiap tandatanya yang kububuhkan dalam setiap akhir pertanyaan yang ku utarakan. Jangan! “Jangan tanya aku, karena aku yang bertanya kepada mu” Lalu siapakah engkau? Manusia kah? Makhluk kah? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Lihatlah diri mu!</p>
<p class="MsoNormal">Benarkah itu engkau?</p>
<p class="MsoNormal">Bukan yang lain?</p>
<p class="MsoNormal">Bisakah kau meyakinkan ku bahwa itu engkau bukan yang lain?<span id="more-50"></span></p>
<p class="MsoNormal">Ku yakin kau tak cukup mampu menjawab dari setiap tandatanya yang kububuhkan dalam setiap akhir pertanyaan yang ku utarakan.</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Jangan! “Jangan tanya aku, karena aku yang bertanya kepada mu”</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Lalu siapakah engkau?</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Manusia kah?</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Makhluk kah?</p>
<p class="MsoNormal"><span> </span>Atau seonggok daging bertulang, yang dilengkapi akal?</p>
<p class="MsoNormal">Sudah tujuh kalimat yang berakir dengan tanda tanya kali ini, tapi kau belum juga menjawab satu dari pertanyaan ku!</p>
<p class="MsoNormal">Aku benar-benar tak mengerti atau bahkan lebih tepatnya “kita” benar-benar tak mengerti. Mengapa kita tak pernah mengerti akan kita. Padahal kita selalu berusaha mengerti tentang sesuatu yang ada disekitar kita. Lalu sesungguhnya siapa kita ini? Layakkah sesuatu yang tak mengerti akan dirinya sendiri mengaku bahwa ia lebih unggul dari yang lain, yang ada disekitarnya? Mengapa huruf<span> </span>“A” merasa lebih unggul dari pada huruf “B” padahal, huruf “A” tak pernah tahu bagimana rasanya jadi huruf “B”.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Lihat diri mu!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Betapa susahnya engkau berusaha melihat diri mu sendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Seperti susahnya aku melihat diriku sendiri.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Kau selalu menatapku tajam penuh nafsu.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Seperti aku pun penuh nafsu dan gairah jika melihat dirimu.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Lihatlah semua terjadi seperti adanya</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Tapi kau mengatakan semunya berubah</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;">Ketika aku berdiri ditempat mu aku pun merasakan dan menyaksikan sebuah perubahan,</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Dan ketika kau berada di tempat ku, kau pun mengatakan tak ada yang berubah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Ini aneh, ini ajaib. Ini tak ku mengerti.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-indent: 0.5in;">Aku sungguh-sungguh dungu!</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="margin-left: 0.5in;">Berjalan dengan telapak kaki penuh luka, berdiri dengan kaki yang kerempeng, menganga dengan bibir kering terkelupas, berpikir dengan kekosongan.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Berjaln dengan kaki terbungkus sepatu, berdiri dengan balutan celana dengan jejak garis setrika, tersenyum dengan bibir yang manis, berpikir dengan susunan yang teratur atau jangan-jangan telah diatur.</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Semuanya dengan bentuk kedunguanya masing-masing, tetapi tak ada satupun yang merasa dirinya dungu, mereka mengatakan orang lain lebih dungu dari dir mereka sendiri</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/50/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Insan Kamil ‘Abd al-Karim al-Jilli</title>
		<link>http://ichang.org/archives/34</link>
		<comments>http://ichang.org/archives/34#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 14:47:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ichang</dc:creator>
				<category><![CDATA[filsafat]]></category>
		<category><![CDATA[insan kamil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ichang.org/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Akar Konsep Insan Kamil al-Jilli Konsep Insan Kamil dengan sangat jelas merupakan perpanjangan dari konstruksi pemikiran dari sebuah penghayatan, yang dikemukakan oleh para sufi cerdas. Hal ini bisa dilihat secara historis dalam literatur pemikiran Islam di sekitar awal abad ke-7 H/13 M, dengan munculnya karya agung Ibn ‘Arabi (w. 638 H/1240 M) al-Futuhat al-Makkiyah dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Akar Konsep Insan Kamil al-Jilli</strong><br />
Konsep Insan Kamil dengan sangat jelas merupakan perpanjangan dari konstruksi pemikiran dari sebuah penghayatan, yang dikemukakan oleh para sufi cerdas. Hal ini bisa dilihat secara historis dalam literatur pemikiran Islam di sekitar awal abad ke-7 H/13 M, dengan munculnya karya agung Ibn ‘Arabi (w. 638 H/1240 M) al-Futuhat al-Makkiyah dan Fushus al-Hikam. Walaupun orang pertama yang membuka jalan bagi munculnya konsepsi manusia seutuhnya adalah Husain Ibn Mansur al-Hallaj seorang tokoh sufi Bagdad (244-309 H/858-922 M), dengan mengemukakan konsepsi nur Muhammad dan al-hulul, yaitu konsep yang mengatakan bahwa Tuhan telah memilih tubuh-tubuh orang tertentu untuk tempatnya setelah sifat-sifat kemanusiaan orang itu dihilangkan.<span id="more-34"></span><br />
Dengan ajaran hulul itu al-Hallaj mengatakan bahwa di dalam diri Tuhan terdapat sifat-sifat kemanusiaan yang dinamakan nasut, dan dalam manusia terdapat sifat ketuhanan yang dinamakan lasut. Ajaran hulul ini mendapat bentuk yang lebih sempurna setelah datang seorang sufi yang bernama Ibn ‘Arabi, merekonstruksi dan mengembangkan ajaran hulul al-Hallaj menjadi wahdatul al-wujud. Contoh kecil dari perubahan itu adalah perubahan istilah lahut al-Hallaj dia tukar dengan sitilah al-haq  dan nasut  dia tukar dengan al-khalq. Dan keduanya ini mempunyai hakikat yang satu, dimana yang dzahirnya adalah al-khalaq (makhluk), dan yang bathinnya adalah al-haq (Tuhan). Al-haq ini akan ber-tajjali pada al-khalq yang paling tinggi citra wujudnya, dan kesempurnaan tajjali ini akan terwujud pada manusia yang paling sempurna citra wujudnya. Selanjutnya istilah insan kamil ini digunakan oleh seorang sufi besar dengan nama Abd al-Karim Ibn Ibrahim al-Jilli (767-826 H/1365-1422), untuk mengidentifikasi konsepsinya mengenai manusia sempurna.  Dan sebetulnya konsepsi al-Jilli, mengenai Insan Kamil ini, tidak lebih hanya sebagai penerus konsep Ibn ‘Arabi dan andilnya hanya terdapat dalam upaya memperjelas dan mensistematisasi konsep insan kamil Ibn ‘Arabi yang telah ada dengan pengembangan yang lebih jauh mengenai konsep insan kamil Ibn ‘Arabi.</p>
<p>Selain paham di atas, ada lagi yang berpendapat bahwa konsep manusia sempurna ini berasal dari paham Neo-Platonisme, hal ini diperjelas oleh Rasyidi sebagai berikut:</p>
<p>“Hakekat Muhammad atau Nur Muhammad adalah suatu hasil dari meresapnya Neo-Platonisme. Menurut paham Neo-Platonisme ada tiga hal: pertama, The One atau The God atau The First Principle; kedua, The Devine Mind atau nous; dan yang ketiga, adalah soul. Dari yang pertama memancarlah yang kedua, yang merupakan the world of form (alam misal), dan dari alam misal memancarlah alam materi ini. Hubungan antara alam materi dan the devine mind dinamakan soul. Pancaran dari Tuhan tanpa ada kehendak dari Tuhan, dan hal ini terjadi secara otomatis”.</p>
<p>Menurut konsepsi Nur Muhammad ini Tuhan menciptakan Nur Muhammad, baru setelah itu segala yang diciptakan memancar dari yang Esa. Jika dibandingkan dengan teori Neo-Platonisme Tuhan menancar yang disebut logos. Logos dengan kekuatannya memancar roh yang merupakan kesatuan roh-roh. Sejalan logos dalam Neo-Platonisme dan Nur Muhammad sama berfungsinya sebagai perantara dalam penciptaan.</p>
<p><strong>Riwat Hidup al-Jilli</strong><br />
Nama lengkap tokoh ini ialah ‘Abd al-Karim ibn Ibrahim ibn ‘Abd al-Karim ibn Khalifah ibn Ahmad ibn Mahmud al-Jilli. Ia mendapatkan gelar kehormatan “Syeikh” yang biasa dipakai di awal namanya. Selain itu juga ia mendapat gelar “Quth al-Din” (poros agama), suatu gelar tertinggi dalam hirarki sufi. Ia lahir pada awal Muharam (767 H/1365-6 M) di kota Bagdad, dengan alasan bahwa—menurut pengakuannya sendiri—ia adalah keturunan Syeikh ‘Abd al-Qadir al-Jilani (470-561 H), yakni turunan dari cucu perempuan Syeikh tersebut. Sedangkan ‘Abd al-Qadir al-Jilani berdomisili di Bagdad sejak tahun 478 H sampai akhir hayatnya, tahun 561 H. Dan diduga keturunannya juga berdomisili di Bagdad, termasuk kedua orangtua al-Jilli. Namun setelah ada penyerbuan militerstik bangsa Mongol ke Bagdad yang dipimpin Timur Lenk, keluarga al-Jilli berimigran ke kota Yaman (kota Zabid). Di kota inilah al-Jilli mendapatkan pendidikan yang memadai sejak dini. Dalam catatannya, ia menyebutkan bahwa pada tahun 779 H ia pernah mengikuti pelajaran dari Syeikh Syaraf al-Din Ismail ibn Ibrahim al-Jabarti (w. 806 H), dan salah satu teman seangkatan adalah Syihab al-Din Ahmad al-Rabbad (w. 821).<br />
Pada tahun 790 H ia berada di Kusyi, India untuk mendalami kesufiannya. Karena kesetabilan kota India pada saat itu memungkinkan tasawuf-falsafi dan tariqah-tariqah di India berkembang dengan pesat. Namun sebelum perjalanannya ke India ia berhenti di Persia dan belajar bahasa Persia, sehingga ia pun dapat menyelesaikan satu buah buku dengan judul, Jannat-u al-Ma’arif wa Ghayat-u Murid wa al-Ma’arif di kota ini (Persia). Empat tahun  kemudian (803 H) ia pun berkunjung ke kota Kairo dan disana ia sempat belajar di Univeritas al-Azhar, dan bertemu banyak para teolog, filusuf, dan sufi. Di kota inilah ia menyelesaikan penulisan bukunya yang berjudul, Ghunyah Arbab al-Sama’ wa Kasyf al-Qina’ an Wujud al-Istima. Dan dalam tahun yang sama juga ia berkunjung ke kota Gazzah, Palestina, di kota ini ia menulis bukunya dengan judul, al-Kamalat al-Ilahiyah. Namun setelah dua tahun kemudian, kurang lebih, ia kembali lagi ke kota Zabid, Yaman dan bertemu kembali dengan gurunya (al-Jabarti), di kota Zabid lah ia menghabiskan hidupnya sampai akhir hayat.</p>
<p><strong>Karya-karya al-Jilli</strong><br />
Karya-karya al-Jilli sebagaimana riwayat hidupnya tidak banyak diketahui secara pasti, namun terdapat tiga tokoh pemikir yang melakukan penelitian mengenai karya-karya al-Jilli dan ternyata hasil dari ketiga peneliti itu membuktikan bahwa masing-masing mereka saling melengkapi. Penelitian pertama dilakukan oleh Haji Khalifah, ia mencatat bahwa al-Jilli telah menulis 6 (enam) judul karya tulis. Sedangkan peneliti kedua adalah Ismail Pasya al-Bagdadi, ia menambahkan 5 (lima) karya al-Jilli dari hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya. Dan yang lebih banyak penemuan diantara dua peneliti sebelumnya mengenai karya-karya al-Jilli adalah Carl Brockelmann, ia mencatat sebanyak 29 (dua puluh sembilan) judul karya al-Jilli. Namun, karya-karya yang ingin dikemukakan disini hanya berasal dari penelitian pertama yang dilakukan oleh Haji Khalifah, yang menurut kami masih mendekati originalitasnya, diantara enam karya al-Jilli adalah:</p>
<p>1. <em>Al-Insan al-Kamil fi Ma’rifat-i al-Awakhir wa al-Awail</em>, Buku ini adalah bukunya yang paling poluler, dan buku ini  mengupas dengan mendalam konsep insan kamil (manusia sempurna) secara sistematis</p>
<p>2. <em>Al-Durrah al-‘Ayiniyah fi al-Syawahid al-Ghaybiyah</em>, Buku ini merupakan antologi puisi yang mengandung 534 bait syair karya al-Jilli</p>
<p>3. <em>Al-Kahf wa al-Raqim fi Syarh bi Ism-i Allah al-Rahman al-Rahim</em>, Buku ini merupakan kajian mendalam mengenai kalimat Basmalah secara panjang lebar menurut tafsir sufi. Berbeda dengan kitab-kitab tafsir di luar tafsir sufi—yang berupaya menjelaskan kata demi kata dan kalimat demi kalimat dari ayat-ayat al-Qur’an—al-Jilli, di dalam karya ini menjelaskan ayat pertama surat al-Fatihah, huruf demi huruf, yang menurutnya merupakan lambang-lambang/simbol-simbol yang mempunyai makna tersendiri.</p>
<p>4. <em>Lawami’ al-Barq</em></p>
<p>5. <em>Maratib al-Wujud</em>, Buku ini menjelaskan tentang tingkatan wujud dan disebut juga dengan judul Kitab Arba’in Maratib.</p>
<p>6. <em>Al-Namus al-Aqdam</em>, Buku ini terdiri dari 40 juz, masing-masing juz seakan-akan terlepas dari juz lainnya dan mempunyai judul tersendiri. Akan tetapi sangat disayangkan sebagian besar dari buku ini tidak ditemukan lagi.</p>
<p><strong>Insan Kamil al-Jilli</strong><br />
Seorang manusia yang menyandang Insan kamil sebagaimana yang dikemukakan Ibn ‘Arabi adalah merupakan manusia yang telah mencapai perkembangan spiritual tingkat tinggi dan secara sempurna mencerminkan citra Tuhan.   Dan secara etimologi kata ‘Insan Kamil’ berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kalimat; al-insan dan al-kamil. Kata insan, dipandang berasal dari turunan beberapa kata. Misalnya saja uns, yang artinya cinta. Dan ada yang memandang berasal dari turunan kata nas, yang artinya pelupa, karena manusia sendiri secara historis berasal dari suatu lupa  dan akan berakhir dengan lupa. Ada juga yang berpendapat bahwa itu berasal dari ‘ain san, yang artinya ‘seperti mata’. Namun dalam artian umum biasanya berarti manusia.  Kata kedua, kamil, yang artinya adalah ‘sempurna’, yang menurut Murtadla Muthahhari kata ini sangat tepat sekali digunakan oleh al-Jilli, karena selain kata ini ada juga kata yang mirip artinya tetapi sangat berbeda maknanya, yaitu tamam (lengkap). Kekuatan kata kamil (sempurna), menurutnya, melebihi kata tamam (lengkap). Karena kamil menunjukan sesuatu yang mungkin saja lengkap, namun masih ada kelengkapan lain yang lebih tinggi satu atau beberapa tingkat, dan itu lah yang disebut kamil (sempurna).<br />
Menurut al-Jilli, Lawh al-Mahfuzh yang dipandang sebagai ketentuan-ketentuan dan catatan-catatan ilmu Tuhan tentang makhluk-Nya identik dengan al-Nafs al-Kulliyah (jiwa universal) atau dalam bahasa Hallaj adalah ‘nur muhammad’ yang secara paripurna dapat ber-tajjali pada Insan Kamil, dan manjadi perantara antara Tuhan dan makhluk, karena ia (Insan Kamil) adalah khalifah yang diutus untuk menjaga dan melestarikan alam semesta. Dan ‘hakikat muhammadiyah’ ini dalam pandangan al-Jilli sendiri adalah sebagai makhluk dan bersifat baharu. Tidak seperti pandangan Ibn ‘Arabi yang menganggapnya qadim dan baharu, dan al-Halaj menganggapnya qadim saja.<br />
Hakikat al-Muhammadiyah sebagai makhluk pertama yang diciptakan Tuhan di dalam ilmu-Nya, itu seperti cahaya Tuhan yang menerangi-Nya dari ketiadaan (nihilo). Namun ketiadaan Tuhan disini bukan berarti tidak ada sama sekali, tetapi tidak ada karena kesucian-Nya yang terbebas dari segala ada selain Diri-Nya, segala persepsi dan keterbatasan ilmu pengetahuan manusia tentang Tuhan. Karena  cahaya yang diciptakanNya pertama kali belum mampu memberikan gambaran tentang Diri-Nya. Kemudian dengan kekuasaan-Nya Ia ciptakan makhluk dari yang berupa non-materi hingga yang materi untuk menjadi saksi kewujudan-Nya, tetapi dari semua makhluk yang ia ciptakan hanya manusia lah yang memiliki kesadaran dan pengetahuan tentang Diri-Nya sehingga manusia pun diberi amanat sebagai khlaifah untuk itu. Dan dalam diri manusia lah terdapat ‘cermin’ yang mampu memantulkan citra Tuhan, dengan bantuan cahaya (Hakikat Muhammadiyah) yang Tuhan ciptakan pertama kali.<br />
Dan setiap manusia memiliki potensi untuk mendapatkan “hakikat muhammadiyah” atau “nur muhammad” dari Tuhan, tetapi manusia yang mampu mengaktualisasikan hakikat muhammadiyah itu sangat terbatas, dan manusia yang mampu mengaktualisasikannya dalam kehidupan itu lah yang disebut dengan Insan Kamil. Aktualisasi “nur muhammad” dalam pandangan al-Jilli dan Ibn ‘Arabi tidak dilihat secara ontologis saja tetapi juga secara epistemologis dan itu bisa dicapai dengan dua jalan, jalan pertama disebut tajjali dan jalan kedua disebut taraqqi. Dan tajjali  adalah berkat ke-Rahmanan-Nya yang ia berikan kepada manusia yang ia kehendaki, sedangkan taraqqi adalah usaha dan ikhtiar manusia itu sendiri untuk mendapatkan status Insan Kamil.</p>
<p><strong>Tajjali dan Taraqqi al-Jilli</strong><br />
Al-Jilli sendiri membagi tajjali Tuhan atas lima tingkatan: Pertama,Uluhiyah, tahap ini adalah tingkat tertinggi dalam proses tajjali Tuhan, dimana uluhiyah merupakan esensi (quidity) zat primordial dan merupakan wujud primer yang menjadi sumber segala yang ada dan tidak ada. Nama yang digunakan dalam peringkat ini adalah “Allah”, karena dalam pandangan al-Jilli sendiri, sebutan “Allah” merupakan nama tertinggi bagi Tuhan di atas nama-Nya al-Ahad, yang digunakan oleh Ibn ‘Arabi sebagai tingkat tajjali tertinggi Tuhan (Ahadiyah). Kedua, Ahadiyah, tahap ini muncul dari tahap sebelumnya (uluhiyah), dimana tingkatan ini merupakan sebutan dari zat murni (al-dzat al-sadzi) yang tidak memiliki nama dan sifat, dan tahap ini tidak bisa dicapai oleh pengetahuan manusia karena tidak ada kalimat dan kata-kata yang dapat menggambarkan-Nya. Dan dalam tahap ini menurut al-Jilli mengalami tiga penurunan (tanazzul):<br />
a.    <em>Ahadiyah</em>, Zat Mutlak menyadari ke-Esa-an diriNya<br />
b.    <em>Huwiyah</em>, kesadaran Zat Mutlak terhadap ke-Esa-an-Nya yang gaib<br />
c.    <em>Aniyah</em>, Zat Mutlak menyadari diri-Nya sebagai Kebenaran<br />
Ketiga, Wahidiyah, dimana pada tahap ini zat Tuhan menampakan diri-Nya pada sifat dan asma (nama), tetapi sifat dan asma itu sendiri masih identik dengan zat Tuhan karena zat ini pun masih berupa potensi-potensi dan belum mampu mengaktual secara keseluruhan. Keempat, Rahmaniyah, pada tahap ini Tuhan ber-tajjali pada realitas asma dan sifat, dan dengan kalimat “kun” (jadilah), muncullah realitas-realitas potensial yang terdapat dalam tahap wahidiyah tadi menjadi wujud yang aktual, yakni alam semesta. Tetapi aktualitas ini masih bersifat universal, karena bersamaan dengan proses penciptaan alam secara keseluruhan. Kelima, Rububiyah, dalam tahap ini Tuhan ber-tajjali pada alam semesta yang sudah mengalami partikularisasi (terbagi-bagi) dan sudah beragam, khususnya pada diri manusia (sebagai makhluk yang terbatas) untuk memanifestasikan diri-Nya yang tidak terbatas itu dengan menunjukan citra-Nya dalam diri manusia, dan citra Tuhan yang paling utuh bisa kita temukan dalam diri seorang Insan Kamil. Adapun tajjali ini akan mengalami pantulan yang akan berbalik arah kearah semula (dari zat sampai perbuatan, kemudian berbalik dan memantul dari perbuatan menuju zat); pertama tajjali perbuatan (tajjali al-af’al), kedua tajjali nama-nama (tajjali al-asma), ketiga tajjali sifat-sifat (tajjali al-shifat), keempat tajjali zat (tajjali al-dzat).<br />
Kemudian al-Jilli sendiri dengan kejeniusannya membagi taraqqi  kepada tujuh tingkatan menuju Insan Kamil:<br />
1.    <em>al-Islam</em>, dimana pada tingakt ini seseorang harus memiliki identitas keislaman yang mana identitas itu termaktub dalam rukun Islam: syahadat, sholat, zakat, puasa, dan menunaikan ibadah haji bagi yang mampu<br />
2.    <em>al-Iman</em>, pada tingkat ini seseorang harus memiliki keyakinan yang teguh kepada Allah s.w.t., Malaikat-Malaikat Allah, Kitab-Kitab Allah, Rasul Alllah, Hari Akhir, dan Qadar<br />
3.    <em>al-Shaleh</em>, pada tahap ini seseorang melaksanakan ibadah kepada Allah harus didasari oleh rasa takut (khawf) dan harap (raja’)<br />
4.    <em>al-Ikhsan</em>, dalam tahap ini seseorang harus menempuh tujuh maqam, yaitu: tobat, inabah (tobat dari kelalaian mengingat Tuhan), zuhud, tawakal, rela, tafwidl dalam segala hal, dan ikhlas<br />
5.    <em>al-Syahadah</em>, pada tahap ini seseorang akan menyaksikan keindahan dan keagungan Tuhan yang sesungguhnnya<br />
6.    <em>al-Shiddiqiyah</em>, pada tahap ini bisa disebut juga tahap makrifat karena seseorang pada tahap ini akan mendapatkan cahaya kebenaran secara berangsur dari asma-Nya hingga zat-Nya, yaitu:<br />
a.    <em>‘ilm al-yaqin</em>, pada tingkat ini seorang sufi disinari oleh asma Tuhan<br />
b.    <em>‘ayn al-yaqin</em>, pada tingkat ini seorang sufi disinari oleh sifat Tuhan<br />
c.    <em>haqq al-yaqin</em>,pada tingakat ini seorang sufi disinari oleh zat Tuhan<br />
7.    <em>al-Qurbah</em>, pada tahap ini seseorang akan mendapatkan kedudukan di sisi Tuhan paling terdekat dengan-Nya, dan ada empat pendekatan kepada Allah, yaitu:<br />
a.    <em>al-Khullah</em>, adalah sebuah persahabatan dengan Tuhan, sehingga Tuhan dikenal secara intim. Dengan demikian sufi senantiasa berbuat sesuai dengan apa yang dikehendaki-Nya<br />
b.    <em>al-Hubb</em>, adalah sebuah percintaan antara sufi dan Tuhannya, sehingga yang satu merasakan apa yang dirasakan oleh yang lainnya<br />
c.    <em>al-Khiram</em>, adalah sebuah pencitraan Tuhan secara utuh terhadap seorang sufi, tetapi kesempurnaan Tuhan tidak tercapai oleh sufi secara keseluruhan, karena kesempurnaan-Nya tidak terbatas<br />
d.    <em>al-Ubudiyah</em>, adalah sebuah penghambaan seorang sufi terhadap Tuhannya, karena bagaimana pun ia tidak akan dapat menjadi Tuhan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ichang.org/archives/34/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
